Pilot pesawat Sukhoi Superjet 100 sempat meminta izin Air Traffic Control (ATC) untuk menurunkan pesawatnya dari 10.000 kaki ke 6.000 kaki di atas kawasan udara Atang Sanjaya. Tak lama setelah itu, komunikasi terputus dan ternyata pesawat justru menabrak tebing Gunung Salak, Bogor.
Penyelidikan tentang penyebab kecelakaan pesawat super
canggih buatan Rusia tersebut hingga kini tengah dilakukan Komite
Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia dan Rusia. Tim masih
berusaha mencari kotak hitam (black box) untuk mengetahui penyebab
kecelakan tersebut.
Sukamto, Safety Manager PT Sky Aviation,
perusahaan yang sebelumnya tertarik membeli Sukhoi Superjet itu,
menyadari banyak yang janggal dalam kecelakaan itu. Salah satunya adalah
keputusan pilot menurunkan ketinggian dari 10.000 kaki ke 6.000 kaki.
Padahal, tinggi Gunung Salak adalah 6.800 kaki.
"Kalau alasannya
karena ada awan di depan, seharusnya lebih aman kalau pesawat itu naik
ke atas dan bukannya turun karena itu 'kan kawasan pegunungan jadi
bahaya kalau ada benturan," ujar Sukamto.
Selain itu, pesawat
secanggih Sukhoi Superjet, lanjutnya, juga seharusnya mampu melewati
turbulance yang timbul jika pilot tetap melaju melintasi awan. "Selama
sistem navigasinya mumpuni, seharusnya pesawat bisa lewat awan itu. Saya
tidak tahu kenapa pilot memutuskan turun sampai 4.000 kaki padahal itu
beresiko," paparnya.
Ia pun mempertanyakan mengapa pihak ATC
memberi izin pesawat untuk turun ke 6.000 kaki. Sukamto menilai jika
alasan ATC karena pilot meminta turun saat di atas landasan Atang
Sanjaya yang merupakan kawasan yang aman, maka ada hal janggal lainnya
yang timbul. Pasalnya, pesawat tersebut justru mengarah ke lereng
Gunung Salak, dan ada kemungkinan terbang rendah di kawasan tersebut.
"Kalau
pesawat komersil biasa, prosedur turun 10.000 ke 6.600 belok kiri di
Atang Sanjaya, lalu belok kiri lagi dari 6.000 ke 2.500 masuk ke Halim.
Itu yang saya tidak mengerti, kenapa pesawat justru belok ke kanan,
bukan ke kiri, walaupun bila dalam kondisi joyflight tidak ada aturan
apa pun, " kata Sukamto.
Dugaan adanya manuver yang dilakukan sang pilot pun muncul. Namun, Sukamto memastikan bahwa dalam aturan joy flight pesawat penerbangan sipil, manuver tidak bisa dilakukan secara ekstrem.
"Kalau dia coba-coba, itu sudah melanggar, dan tidak mungkin dia lakukan karena resikonya sangat besar," kata Sukamto.
Sistem
navigasi dan peringatan dini yang dimiliki pesawat seperti theater
airborne warning system (TAWS) juga seharusnya bekerja memberikan
informasi ke pilot. TAWS adalah perangkat peringatan dini pada pesawat
mengenai rintangan di luar.
"Kalau ada lereng atau tebing di
sekitar pesawat berkilo-kilometer sebelumnya, TAWS akan keluarkan bunyi
tanda peringatan ke pilot. Harusnya alat ini bekerja apalagi dengan
pesawat secanggih Sukhoi, pasti ada jarak yang cukup jauh sehingga TAWS
ini akan berbunyi lebih cepat," ujar Sukamto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar